26 April 2010

Jejak Pemikiran Hidayat Nataatmadja dalam Perkembangan Pemikiran Ilmu Ekonomi Kontemporer

Lukman Hakim
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB, UGM), Yogyakarta, Jurusan Ilmu Ekonomi.

Krisis teori Ilmu Ekonomi telah terjadi sejak ia terlepas dari filsafat sosial pada akhir abad ke-18. Berbeda dari masa awal terbentuknya, teori ilmu ekonomi ada dan berfungsi untuk mencari kebenaran. Dalam kenyataan kekinian teori ekonomi saat ini ada atau diadakan untuk dibenarkan. Asumsi dalam teori ekonomi yang berfungsi sebagai batasan dan syarat berlakunya teori tersebut dalam kenyataan, ternyata telah dimaknai sebagai sebuah aksioma yang benar dengan sendirinya (Nataatmadja, 2007). Ketertutupan terhadap kritik, menjadikan ilmu ini lepas dari tujuannya sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan. Menjadikan ilmu ini semakin jauh dari kenyaataan, sekaligus memperlebar jurang perbedaaan antara teori yang ada dan berlaku saat ini dengan kenyataan yang terjadi.

Gerakan-gerakan atas dasar kepedulian terhadap perkembangan ilmu ekonomi untuk mengembalikan ilmu ekonomi pada spirit awalnya dan mempelajari fenomena ekonomi sebagaimana adanya telah dilakukan oleh banyak pemikir ekonomi. Gerakan tersebut di maknai sebagai sebuah ’makar’ terhadap ilmu ekonomi oleh mayoritas ekonom yang merasa nyaman dengan keberadaan ilmu ekonomi saat ini. Bahkan gerakan yang dilakukan oleh pemikir-pemikir ekonomi itu sendiri. Pada akhirnya para pembaharu ini di cap sebagai bukan ekonom. Diantaranya adalah Max Weber yang dianggap sebagai sejarawan ekonomi, John Kenneth Galbraith dan Robert Heilborner yang diangggap sebagai sosiolog, Kenneth Boulding yang dianggap sebagai filsuf, Karl Marx yang disebut sebagai kritikus sosial dan Hazel Handerson yang lebih dikenal sebagai futuris (Chapra, 2000).

Dalam konteks Indonesia gerakan ini juga telah dilakukan oleh Hidayat Nataatmadja. Apa yang didapatkan beliau tidak jauh berbeda dengan para pembaru ilmu ekonomi lainnya, bahkan mungkin lebih mengerikan. Tidak sedikit ilmuwan Indonesia menyebut tindakan yang dilakukan Hidayat sebagai sesuatu yang mustahil, tidak masuk akal dan tidak ilmiah. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ilmuwan gila, sinting, bodoh dan julukan lainnya yang sebenarnya tidak patut di ucapkan oleh seorang ilmuwan. Padahal latar belakang dan perjalanan intelektual Hidayat tidak jauh dari ilmu ekonomi.


Pembebasan Ilmu Ekonomi

Menurut Peter F. Drucker, dalam sejarah perkembangannya, ilmu ekonomi telah mengalami empat kali perubahan besar di dalam pandangan dunianya. Pertama, pada masa Merkantilisme di abad ke-17, kedua pada masa fisiokrat, dimana ilmu ekonomi telah menjadi disilin ilmu tersendiri dan dikenal dengan ilmu ekonomi klasik, ketiga pergeseran ilmu ekonomi klasik menuju ilmu ekonomi neoklasik di paruh kedua abad ke-19 dan keempat revolusi ilmiah oleh Keynes.

Ilmu ekonomi neoklasik inilah yang menjiwai ilmu ekonomi dan dianut ekonom sampai saat ini. Sekaligus menandai pergeseran dari pengikut David Ricardo menjadi pengikut Leon Walras atau Madzhab Austrian. Pergeseran filosofis dari ’nilai’ menjadi ’kegunaan’, dari kebutuhan manusia (human needs) menuju keinginan manusia (human wants) dan dari struktur ekonomi menjadi analisa ekonomi (Drucker, 1987). Pergeseran tersebut tidak terlepas dari kemenangan rasuonalisme dan ilmu pengetahuan pada masa itu. Ditandai dengan pertama munculnya Gerakan Pencerahan (Enlightment,Aufklarung) yang dipelopori oleh gagasan dasar rasionalisme moderen melalui dua semboyan dari Rene Descrates yaitu ’cogito ergo sum / saya berfikir, maka saya ada’ dan dari Francis Bacon yaitu ’knowledge is power / pengetahuan adalah kekuasaan’, dan kedua terbitnya karya Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematics pada tahun 1687 (Ormenod, 1997).

Kemenangan tersebut menjadikan Fisika Newton dan paradigma Descrates menjadi tolak ukur kadar keilmiahan perkembangan disiplin ilmu pada abad ke-19. Semakin dekat suatu ilmu dengan kedua hal tersebut semakin tinggi posisi disiplin ilmu tersebut. Ilmu ekonomi menjadi disiplin ilmu yang paling banyak terpengaruhi, melalui pencontohan konsep dan teori Fisika dan adopsi paradigma Descrates. Hal ini dilakukan untuk mengikuti jejak sukses ilmu Fisika (Ormenod, ibid). Tak berlebihan jika kemudian Philip Mirowski berpendapat bahwa ”Economics as Social Physics, Physics as Nature's Economics”.

Padahal, menurut Capra evolusi dinamis ekonomi yang digambarkan dalam ilmu ekonomi berbeda dengan cakupan ilmu Fisika klasik yaang berlaku untuk rentang fenomena alam yang terumuskan dengan jelas dan statis. Sedangkan pola ekonomi terus berubah-ubah sesuai dengan sistem ekologi sosial yang berlaku. Kerangka tersebut seakan tidak diperhatikan. Para ekonom masih terpesona oleh keketatan paradigma Descrates dan kenggunan model Newton. Yang terjadi adalah ilmu ekonomi tidak pernah bersentuhan dengan realitas ekonomi dewasa ini (Capra, 2000). Terbukti dengan ketidakmampuan ilmu ekonomi neoklasik dalam memprediksi dan mengatasi depresiasi besar yang terjadi tahun 1930-an.

Terbelenggunya ilmu ekonomi dalam bingkai fisika Newtonian, diantaranya bisa dilihat dari model keseimbangan umum dan penyatuan metodologi dalam ilmu pengetahuan yang bertitik tolak dari gagasan menciptakan ilmu ekonomi sebagai ilmu alam dan bisa dibandingkan dengan Fisika Newton oleh Leon Walras (Sugihardjanto, 1995). Pengertian kuantitas uang beredar dan kecepatannya dalam peredaran yang dicetuskan William Petty dan fondasi ekonomi moderen yang dibangun oleh John Locke tentang masyarakat manusia yang atomistik serta hukum persedian dan permintaan yang kesemuanya dipengaruhi oleh Newton dan Descrates (Capra, 2000). Bahkan belenggu tersebut masih mengikat, terbukti dengan diraihnya Nobel ekonomi 2003 oleh Robert F. Engle (New York University) dan Clive W.J. Granger (University of California) yang menggunakan mekanika statistika dalam analisis data deret waktu sistem ekonomi keuangan. Prestasi tersebut semakin meneguhkan penyatuan ilmu ekonomi dengan ilmu fisika, yang lemudian dikenal dengan istilah ekonofisika. Belenggu itu juga dirasakan oleh Hidayat dan telah berdampak pada ketimpangan, keterbelakangan, ketidakadilan, ketertindasan dan bentuk bentuk-bentik lain yang mencerminkan penguasaan sebagian kecil anggota masyarakat atas mayoritas. Terlihat jelas dalam model pasar persaingan sempurna dengan ciri ketidakmampuan dalam mengendalikan harga, mobilitas sempurna peredaran modal dan informasi simetris bagi pelaku ekonomi. Menurut Hidayat konsep yang dicetuskan Alfred Marshall ini, sebenarnya adalah adopsi teori fisika yang dicetuskan oleh Robert Boyle tentang ciri gas ideal di suatu ruang tertutup yang secara bersama mampu menentukan keadaan kesetimbangan agregat. Dengan demikian menurut Hidayat ilmu ekonomi sebenarnya lebih cocok disebut sebagai ’Ilmu Ekonomi Boyle’ (Nataatmadja, 2007).

Seharusnya ekonom tidak mentah-mentah memasukkan konsep ilmu fisika dalah ilmu ekonomi. Tetapi mampu mengambil spirit yang dilakukan oleh Descrates dan Newton dalam merapikan ilmu kebendaan yang berantakaan pada saat itu dan mampu menemukan landasan ilmu kebendaan yang bersifat universal. Tidak seperti ilmu sosial yang terkotak-kotak dan seolah-olah tidak memiliki hubungan satu sama lain. Hal tersebut dikuatkan oleh fakta historis ilmu ekonomi yang menyerupai konsep Descrates dalam hal konsep hakekat filsafat yang di gambarkan oleh Adam Smith. Penemuan ini menyerupai landasan Newtonian dalam ilmu sosial. Dalam perkembangannya bisa dilihat dari dominasi ilmu ekonomi atas ilmu sosial lainnya (Nataatmadja, 1981). Dengan demikian, pola hubungan antar ilmu tidak lagi saling menguasai tetapi, saling ketergantungan dan saling menyempurnakan. Termasuk dalam hubungan antara Ilmu Ekonomi dengan Ilmu Fisika.


Karakterisik Ilmu Ekonomi Masa Depan

Dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya, ilmu ekonomi menjadi lebih maju dengan menggunakan matematika dan statistika. Ekonom pun membanggakan diri bahwa ilmunya tidak kalah dengan ilmu eksak. Menjadikan ilmu ekonomi bersifat valueless atau wertfrei, seperti halnya ilmu eksak (Partadiredja, 1981). Segala sesuatu menjadi bermakna ketika dapat diukur dan sebaliknya. Dalam kehidupan praksis, berakibat pada alokasi pengunaan tenaga lebih banyak digunakan untuk menciptakan model -model ekonometri daripada untuk merumuskan kebijaksanaan ekonomi. Inilah yang disebut sebagai dosa pembangunan dan berakibat pada pemujaan terhadap angka (Haq, 1983).

Bagi Hidayat Nataatmadja kebutuhan untuk mencari dan menemukan teori ekonomi baru, bukan semata-mata karena teori ekonomi kontemporer bertentangan dengan filsafat manusia atau lebih khusus lagi bertentangan dengan dasar negara Indonesia (Pancasila), tetapi juga karena orang barat sendiri sudah muak dengan teori ekonomi yang ada saat ini. Keberadaan teori ekonomi saat ini tidak terlepas dari perkembangan sejarah ilmu pengetahuan barat yang bertolak dari konflik agama. Sehingga sejak awal ilmu pengetahuan barat telah memisahkan diri dari agama. Inilah yang kemudian dikenal dengan konsep netralitas ilmu dalam ilmu pengetahuan (Nataatmadja, 1981). Teori ekonmi yang diajukan pun bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sama dengan yang ada di buku-buku standar Perguruan Tinggi. Yang berbeda adalah landasan filsafatnya, menjadikan landasan moral agamawi menjadi kunci utama teori ekonomi. Teori baru ini masih menggunakan bentuk matematis, tetapi tidak mendewakannya. (Nataatmadja, 1984a).

Menurut Hidayat, teori ekonomi saat ini didasarkan pada keperilakuan manusia sebagai homo economicus, yakni manusia sebagai binatang berakal yang mencari kepuasan konsumtif sebesar-besarnya untuk kepentingannya sendiri tanpa perduli dengan orang lain. Model homo economicus inlah yang kemudian diturunkan menjadi model pasar persaingan sempurna (Nataatmadja, 1982). Model tersebut bertentangan dengan kenyataan manusia yang secara fitrah memiliki motivasi kreatif dalam setiap diri, motivasi untuk mendayagunakan dirinya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya (Nataatmadja, 1981).

Teori baru dibanguan dengan mengganti teori kepuasan konsumtif utilitarian dari Smith menjadi teori kepuasan kreatif. Karena kepuasan kreatif adalah khas manusia, langsung bisa dikaitkan dengan ajaran agama, menghasilkan kebahagian kreatif yang bersifat spiritual, bersifat aditif (Nataatmadja, 1981). Dengan demikian ilmu ekonomi memiliki ketergantungan terhadap ilmu agama (Nataatmadja, 1984b). Agama mengajarkan bahwa kesadaran spiritual lebih tinggi dari kesadaran materialistik. Artinya, kepuasan konsumtif seharusnya di subordinasikan pada kepuasan kreatif. Ditempuh dengan jalan menghadirkan kepentingan kosmik dan kepentingan humanistik sebagai citra manusia yang lebih tinggi, tanpa mengabaikan kepentingan diri (Nataatmadja, 1981).

Pelaku ekonomi tidak lagi sebagai homo economicus, tetapi homo mysticus atau homo metafisikus. Karena sifat dari kepuasan kreatif dan kepuasan konsumtif adalah berpasangan Hidayat masih menggunakan model ’pasar persaingan sempurna’ tetapi dengan definisi yang berbeda yaitu pasar yang dikelola dan dijalankan oleh manusia-manusia bermoral sempurna, yang bersaing dalam proses kreatif, mampu menegakkan asa ’silih asah, silih asih, silih asuh’ demi kepentingan bersama. Teori ekonomi riil adalah teori ekonomi yang turut membawa masyarakat ekonomi ke arah kesempurnaan itu. Dengan sepenuhnya menyadari prakondisi moral yang berlaku di masyarakat (Nataamadja, 1984a).

Dengan perubahan dasar filsafat manusia pada ilmu ekonomi, maka definisi ilmu ekonomi pun juga ikut berubah. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana mengaktualisasikan fitrahnya sesuai dengan ajaran agama, khususnya dalam pendayagunaan sumberdaya yang langka dan memiliki berbagai alternatif pendayagunaan, dengan tujuan agar manusia dapat mengambil hikmah dan manfaat yang sebeser-besarnya demi kepentingan kehidupan umat tanpa melupakan kewajiban untuk menjaga kelestarian sumberdaya yang ada (Nataamadja, 1984b).


Kreativitas dalam Ilmu Ekonomi


Pengakuan terhadap keterkaitan antara kreativitas dengan ilmu ekonomi mengemuka ketika John Howkins, menggunakan kedua konsep tersebut sebagai judul bukunya yaitu ‘The Creative Economy: How People Make Money From Ideas’ (2001). Ekonomi kreatif inilah yang menjadi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi global saat ini, menggantikan bentuk ekonomi sebelumnya yaitu ekonomi pertanian, ekonomi industri dan ekonomi informasi. Dengan kata lain ekonomi kreatif adalah toggak utama munculnya ekonomi gelombang keempat.

Salah satu metode untuk menganalisis struktur dan fungsi kreativitas dalam perekonomian adalah dengan value-chain analysis. Metode ini merupakan bentuk yang paling sederhana, model analisis dari rantai produksi kreatif berawal dari ide kreaif yang dikombinasikan dengan input lainnya untuk memproduksi barang kreatif maupun jasa yang meningkatkan nilai tambah hingga barang tersebut memasuki pasar dan saluran distribusi hingga akhirnya menjangkau konsumen akhir. Kelebihan dari pendekatan ini adalah bahwa model ini lebih sensitif pada perilaku individu dan hubungannya dengan institusi, jaringan dan tata kelola (governance) mereka.

Menurut Hidayat, teori kreativitas muncul di tangan Einstein. Hakekat terjadinya kreativitas dapat dicari dari penjelasan Gerard Holton. Kreativitas mempunyai arti metafisik non rasional Proses terjadinya kreativitas adalah tahap dari perpindahan totalitas pengalaman langsung (keindraan) menuju sistem aksioma, tahap ini adalah ‘lompatan’, bukan melalui jalur logika melainkan jalur intuisi yang ditunjang oleh rasa simpati dan bersentuhan dengan pengalaman. Kemudian diturunkan pada teorema-teorema turunan, tahap ini menempuh jalur logika yang bersifat deduktif (Nataamadja, 1981).

Berangkat dari sebuah kesadaran dan motivasi kreatif, aktivitas konsumsi bukan lagi semata-mata untuk konsumsi melainkan untuk meningkatkan kreativitas (Nataamadja, 1981). Produksi adalah kreativitas yang di dharmabaktikan bagi kepuasan siap kreasi. Artinya, siap berkreasi setelah melakukan aktivitas konsumsi. Kepentingan bersama, diarahkan pada pembinaan diri dalam persiapan kreasi yang akan menghasilkan (Nataamadja, 1984b). Inilah yang akan menjadi dasar ilmu kewiraswastaan atau kewiraan (Nataamadja, 1981). Dengan konsep kreativitas menurut Hidayat ini, value-chain analysis akan disempurnakan menjadi creative circle. Satu proses kreativitas yang tidak terputus oleh kegiatan konsumsi, melainkan mampu menghasilkan efek pengganda dalam ektivitas ekonomi.

Teori kepuasan kreatif, menurut Hidayat akan membawa suatu sistem sosial ke suatu keseimbangan dinamis dan kesejahteraan sosial. Konsep ini sejalan dengan konsep hubungan kreativitas dengan pertumbuhan ekonomi yang pernah dicetuskan oleh Joseph Schumpeter. Jika menurut Hidayat kreatifitas bersifat aditif, kreatifitas akan memunculkan proses imitatif dalam masyarakat, menurut Schumpeter.


Kesimpulan

Perlahan tapi pasti, jejak pemikiran Hidayat dalam ilmu ekonomi telah menemukan relevansinya dengan apa yang terjadi dalam perkembangan teori ekonomi belakangan ini. Pengakuan terhadap peran suatu nilai atau norma yang berlaku dalam mesyarakat dalam kehidupan ekonomi telah membentuk sebuah cabang ilmu ekonomi baru yang di sebut New Institutional Economics (NIE). Pentingnya mempertimbangan perilaku manusia dalam aktivitas ekonomi telah membentuk behavioral economics dan neuroeconomics. Dan yang talah pentingnya adalah pengakuan kontribusi kreativitas dalam perekonomian global yang kemudian di sebut creative economy.

Sebagai seorang ilmuwan dan ekonom, Hidayat telah ikut meletakkan dasar konsep dalam perkembangan ilmu ekonomi diatas. Berperan serta dalam mempercepat proses terbentuknya gelombang ekonomi keempat dalam masyarakat ekonomi sekaligus dalam meletakkan dasar munculnya revolusi ilmiah ke lima dalam ilmu ekonomi. Cara berfikir seperti Hidayat inilah yang seharusnya dimiliki oleh ekonom saat ini, yaitu mampu mencari titik keseimbangan antara berfikir kritis analitik dalam menganalisa masa kini dan metefisik filsafati untuk meramal masa depan ( Mubyarto, 1981). Tidak mengherankan pula jika krisis keuangan global yang terjadi saat ini sudah lama diramalkan akan terjadi oleh Hidayat, sebagai akibat aktivitas pasar keuangan derivatif (Nataamadja, 1984b).

Bagi Hidayat, dasar pemikiran yang telah di tinggalkan ini tidak lebih dari jalan baru yang dirintis dan sebagai undangan untuk generasi penerus dalam perbaikan ilmu ekonomi kedepan. Seperti yang pernah beliau sampaikan :

Sulit bagi Anda untuk menyimak kedalaman masalah yang saya ungkapkan mengenai pikiran manusia sebagai penjara manusia, karena teknik keilmuan yang saya pergunakan merupakan sintesa antara tassauf yang paling isoterik dengan filsafat yang paling abstrak rasional. Mungkin saya memang tidak mampu menjelaskan secara tuntas kepada anda semua, dan saya menunggu kehadiran orang-orang lain untuk turut berkiprah menjelaskan permasalahan itu kepada kita semua(Nataamadja, 1984b).


Referensi


Bell, Daniel dan Irving Kristol (Ed.). 1988. Krisis Teori Ekonomi (terj. The Crisis in Economic Theory). Jakarta. LP3ES.

Boediono. Teori Pertumbuhan Ekonomi. BPFE UGM Yogyakarta. 1982.

Capra, Fritjof. 2000. Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan (terj. The Rurning Point, Science, Society, and The Rising Culture). Yogyakarta. Yayasan Bentang Budaya.

Capra, Fritjof. 2003. The Hidden Connections : Strategi Sistemik Melawan Kaplitalisme Baru (terj. The Hidden Connections : A Sciece for Sustainable Living). Yogyakarta. Jalasutra.

Dopfer, Kurt (Peny.). 1983. Ilmu Ekonomi di Masa Depan, Menuju Paradigma Baru (terj.Economics in The Future). Jakarta. LP3ES.

Gordon , David. More Heat Than Light: Economics as Social Physics, Physics as Nature’s Economics By Philip Mirowski. The Review of Austrian Economics, Vol. 5, No. 1. Book Review.

Haq, Mahbub Ul. 1983. Tirai Kemiskinan, Tantangan-Tantangan Untuk Dunia Ketiga (terj . Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.

Howkins, John. 2005. The Creative Economy: Knowledge-Driven Economic Growth. Asia-Pacific Creative Communities: A Strategy for the 21st Century.

Mubyarto. 1979. Gagasan dan Metode Berfikir Tokoh-Tokoh Besar Ekonomi dan Penerapannya Bagi Kemajuan Kemanusiaan. Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Nataatmadja, Hidayat. 1981. ”Karsa Membangun Ilmu Ekonomi Pancasila” dalam Mubyarto dan Boediono (ed). Ekonomi Pancasila, BPFE, Yogyakarta, hal 21-48.

Nataatmadja, Hidayat. 1981. ”Penjelajahan di Dunia Filsafat Sebagai Bahan Perbandingan Untuk Melangkah Membangun Ekonomi Pancasila” dalam Abdul Madjid dan Sri Edi Swasono (ed). Wawasan Ekonomi Pancasila, UI Press, Jakarta, hal. 97-121.

Nataatmadja, Hidayat. 1982. Karsa Menegakkan Jiwa Agama Dalam Dunia Ilmiah, Versi Baru Ihya Ulumuddin. Bandung: Iqra.

Nataatmadja, Hidayat. 1984a. Ilmu Humanika. Bandung : Risalah.

Nataatmadja, Hidayat. 1984b. Pemikiran Kearah Ekonomi Humanistik, Suatu penghantar Menuju Citra Ekonomi Agamawi. Yogyakarta: PLP2M.

Nataatmadja, Hidayat. 1984. ”Trias Paradigmatika : Sumber Kerancuan yang Tersembunyi” dalam Nataajmadja, Hidayat dkk. 1984. Dialog Manusia, Falsafah, Budaya, dan Pembangunan, YP2LPM, Malang, hal. 1-48.

Nataatmadja, Hidayat. 1985. ” Masalah Kemiskinan Ditinjau Dari Ajaran Islam” dalam Proyono, AE dkk. 1985. Islamisasi Ekonomi, Suatu Sketsa Evaluasi dan Prospek Gerakan Perekonomian Islam, PLP2M, Yogyakarta, hal. 105-111.

Nataatmadja, Hidayat, Sri Edi Swasono dan Tarli Nugroho. 2007. Indonesia Bergerak, Agenda Menuju Kebangkitan. Yogyakarta: LANSKAP.

Ormenod, Paul. 1997. Matinya Ilmu Ekonomi (terj. The Death of Economics). Jakarta. Kepustaan Populer Gramedia (KPG).

Park, Jang Woo dan Paul J. Zak. 2004. Neuroeconomics Science.

Partadiredja, Ace. 1981. Ekonomika Etik. Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Sen, Amartya. 2001. Masih Adakah Harapan Bagi Kaum Miskin? (terj. On Etics and Economics). Bandung. Mizan Media Utama.

Sugihardjanto, Ali. 1995. ”Ekonomi Multidimensi, Suatu Perspektif Baru” dalam Prisma No.2.1995. Etika Bisnis dan Globalisasi Ekonomi, LP3ES, Jakarta, hal.3-14.

Surya, Yohanes. Ekonofisika dan Nobel Ekonomi 2003.

Yustika, Ahmad Erani. 2008. Ekonomi Kelembagaan : Definisi, Teori dan Strategi. Malang. Bayumedia.

Zak, Paul J. 2004. Neuroeconomics. The Royal Society.

2 komentar:

  1. bagaimana ya nataadmadja, atau nataatmadjaian lah ya, memandang ide2 baru seperti ini:

    https://www.mespom.eu/sites/default/files/field_attachment/blog/node-5326/distributedeconomiesmespom2009-1.pdf

    salam
    bosman di dayu

    BalasHapus
  2. saya sangat lamaaaa sekali menyimpan buku beliau...judulnya saya lupa namun jika mau saya bisa kirimkan fotokopinya untuk pustaka disana. pertama saya sangat berterima kasih ada blog ini, kedua saya sangat kagum dengan bapak yang menentang hampir beberapa paradoks yg dibuat (bukan dicipta,karena pencipta hanyalah Allah SWT) oleh para ilmuwan kuno besar di luar negeri. yang ketiga saya turut bersemangat bahwa kehadiran blog ini semoga menjadi kalsium bagi seluruh jajaran kerangka ilmuwan indonesia...salam sukses.

    BalasHapus